Cara Membuat Teks AI Lebih Manusiawi

Pernahkah kamu merasa bahwa teks yang dibuat oleh AI Tools seperti ChatGPT, Perplexity, atau Gemini terdengar agak kaku dan terlalu menggunakan bahasa sistem yang teratur? Biasanya dipenuhi kata-kata seperti “memanfaatkan,” “menyelami,” atau “menggunakan,”. Teks AI memang bisa menjadi draf awal yang membantu terutama saat Anda berhadapan dengan halaman (atau layar) kosong.

Akan tetapi apapun yang kamu buat, misalnya sedang menulis caption untuk media sosial komunitas panjat tebing ataupun menyusun e-book tentang tips investasi, sentuhan manusia tetap dibutuhkan. Tanpa itu, sebuah tulisan akan sulit terasa hidup dan benar-benar terhubung dengan hati serta pikiran audiens yang kamu tuju.

Melalui tulisan ini, kami akan berbagi tentang cara membuat tulisan berbasis AI agar terdengar lebih manusiawi, sehingga pesan yang disampaikan punya potensi untuk tampil menonjol dan terasa lebih alami.

Apa itu teks AI?

Teks AI adalah segala bentuk tulisan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan, mulai dari ringkasan laporan dan artikel blog hingga caption media sosial dan terjemahan.

Alat seperti ChatGPT atau Google Gemini bekerja dengan teknologi yang disebut large language model (model bahasa besar). Dengan teknologi ini, AI dapat menghasilkan teks dalam jumlah besar hanya dalam hitungan detik setelah kamu memasukkan perintah yang menjelaskan apa yang dibutuhkan.

Meski kalimat yang dihasilkan sering terdengar meyakinkan dan mirip tulisan manusia, AI sebenarnya tidak memahami makna di balik kata-kata tersebut. Ia hanya memprediksi kata apa yang paling mungkin muncul berikutnya berdasarkan pola yang dipelajarinya dari data.

Di sinilah perbedaan utamanya dengan tulisan manusia. Teks buatan AI kadang terasa kaku karena tidak bersumber dari pengalaman pribadi, emosi, atau detail kecil yang membuat tulisan terasa hidup. AI meniru pola, sementara manusia menulis dari apa yang mereka alami. Kita membawa sudut pandang sendiri, menambahkan nuansa emosi, menyelipkan humor jika perlu, dan menangkap konteks dengan cara yang setidaknya untuk saat ini belum bisa sepenuhnya ditiru oleh AI.

Mengapa saya harus memanusiakan teks AI?

Internet saat ini dipenuhi oleh teks buatan AI. Hal ini memang tidak selalu berdampak buruk pada peringkat di mesin pencari, tetapi banyak pembaca mulai merasa bosan karena membaca gaya tulisan yang itu-itu saja.

Dengan memanusiakan teks AI, kamu bisa memanfaatkan alat ini dengan lebih maksimal, misalnya dengan mengganti kata-kata yang terlalu umum atau kaku, serta memperbaiki nada tulisan yang terasa datar dan tidak bernyawa agar lebih memiliki emosi.

Ada beberapa hal yang sering menjadi kelemahan teks AI dan perlu diperhatikan:

1. Kurang kepribadian
Teks AI sering terdengar netral dan generik, seolah ditulis untuk semua orang. Akibatnya, pembaca sulit merasakan karakter atau suara unik dari brand yang kamu miliki. Jika dibiarkan, ini bisa menyulitkan kamu membangun hubungan dengan audiens atau menyampaikan pesan yang lebih mudah diingat.

2. Masalah akurasi
Banyak alat AI tidak memiliki akses ke sumber informasi terbaru. Oleh karena itu, terkadang teks yang dihasilkan menampilkan data yang sudah usang, keliru, atau bahkan menyebutkan sumber yang sebenarnya tidak ada.

3. Terlalu formal
Meski berusaha terdengar santai, AI sering menggunakan bahasa yang terlalu resmi. Gaya seperti ini justru bisa membuat jarak antara kamu dan pembaca, terutama jika target audiens yang kamu sasar mengharapkan narasi yang lebih akrab.

4. Kurang peka terhadap hal-hal kecil
AI masih kesulitan memahami humor yang pas, referensi budaya populer, atau emosi halus yang sering kali membuat tulisan terasa lebih dekat dan relevan bagi pembaca. Yah ini bisa dibilang, namanya juga robot, entah sampai kapan para robot AI ini bisa menampilkan emosi yang bisa dengan mudah divisualiasikan oleh para pembacanya.

Dengan meluangkan sedikit waktu untuk menambahkan sentuhan manusia pada teks AI, kamu tidak hanya membuat tulisan terdengar lebih enak dibaca. Kamu juga menunjukkan bahwa kamu juga menghargai waktu dan perhatian para pembaca, bahwa kamu peduli untuk menyampaikan pesan dengan cara yang lebih hangat dan bermakna.

7 cara untuk memanusiakan teks AI

Berikut tujuh cara yang bisa membantu Anda mengedit teks AI agar lebih sesuai dengan gaya penulisan dan target pembaca Anda.

1. Atur tingkat kerumitan dan spontanitas dalam perintah

Ada dua hal yang sering membuat teks AI mudah dikenali.

Pertama, perplexity, yaitu seberapa sulit sebuah teks ditebak. Jika saat membaca kamu tidak bisa langsung menebak kelanjutan kalimatnya, berarti teks tersebut punya tingkat kejutan yang cukup tinggi. Tulisan manusia biasanya seperti ini, ada pilihan kata atau ungkapan yang tidak terduga sehingga terasa lebih hidup. Sebaliknya, teks AI sering terlalu mudah ditebak karena polanya rapi dan aman.

Kedua, burstiness, yang berkaitan dengan variasi panjang dan bentuk kalimat. Saat menulis, manusia cenderung mencampur kalimat pendek dan panjang secara alami. Teks AI sering didominasi kalimat panjang dan rumit, sehingga terasa berat dan kadang sulit dipahami.

Catatan:
Perintah seperti “tulis ulang dengan perplexity tinggi dan burstiness tinggi” sebenarnya bisa digunakan, tetapi hanya jika alat AI yang Anda pakai memahami istilah tersebut. ChatGPT umumnya bisa, tetapi tidak semua alat AI merespons dengan baik istilah teknis seperti ini. Menurut Kami, lebih aman menggunakan perintah yang jelas dan deskriptif.

Agar teks AI terdengar lebih alami dan tidak kaku, cobalah gunakan perintah seperti:

  • “Tulis ulang agar terdengar lebih natural, dengan campuran kalimat pendek dan panjang,” atau
  • “Buat struktur kalimatnya lebih bervariasi dan nadanya lebih santai, tidak seperti robot.”

2. Sesuaikan keterbacaan dengan skor Flesch

Tidak semua tulisan harus terdengar pintar atau rumit. Yang terpenting, tulisan kamu bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca. Di sinilah skor Kemudahan Membaca Flesch berperan. Skor ini menilai seberapa gampang sebuah teks dibaca, dengan rentang nilai dari 0 sampai 100. Semakin tinggi angkanya, semakin ringan teks tersebut untuk dicerna.

Masalahnya, teks yang dihasilkan AI sering kali terlalu kompleks, padahal sebenarnya tidak perlu. Kalimatnya panjang, istilahnya berat, dan akhirnya pembaca harus bekerja lebih keras untuk memahami maksudnya.

Untuk mengatasinya, kamu bisa menyebutkan tingkat keterbacaan yang kamu inginkan langsung di dalam perintah. Misalnya, minta skor Flesch di kisaran 60–70. Rentang ini cukup nyaman dibaca oleh kebanyakan orang: jelas, mengalir, dan tetap terdengar dewasa tanpa terasa menggurui.

Sebagai contoh, coba kamu pinta ke ChatGPT untuk menjelaskan apa itu algoritma hanya dalam lima baris. Ketika tingkat keterbacaan tidak ditentukan, hasilnya terasa kaku dan rumit. Namun setelah saya mengatur skor bacanya, penjelasannya berubah menjadi jauh lebih sederhana, lebih ramah, dan terasa seperti dijelaskan oleh manusia, bukan mesin.

3. Hindari jargon dan bahasa yang berbelit

Tujuan menulis bukan untuk membuat pembaca terkesan, tetapi untuk membuat mereka paham. Saat mengedit teks AI, cobalah membaca ulang dengan sudut pandang pembaca awam. Jika ada kata atau kalimat yang terasa “berat”, kemungkinan besar itu memang perlu disederhanakan.

Gunakan bahasa sehari-hari, kecuali jika kamu memang menulis untuk kalangan profesional yang terbiasa dengan istilah teknis. Beberapa tanda yang perlu kamu perhatikan antara lain:

  • Kata yang terlalu rumit, seperti “memfasilitasi” padahal “membantu” sudah cukup jelas
  • Istilah bisnis yang kaku, misalnya “inisiatif strategis” atau “pemangku kepentingan”
  • Kalimat pasif yang membuat pembaca bingung siapa sebenarnya yang melakukan sesuatu
  • Frasa yang terlalu formal, seperti “disebutkan sebelumnya” atau “memerlukan”

Tidak ada yang salah dengan kata-kata tersebut. Masalahnya, AI sering menggunakannya terlalu sering dan di tempat yang kurang tepat. Akibatnya, tulisan terasa kaku dan jauh dari pembaca.

Coba tanyakan pada diri sendiri: apakah kata ini benar-benar perlu? Misalnya, apakah rencana kamu memang harus disebut “inisiatif”, atau kata “proyek” atau “tujuan” justru terasa lebih jelas dan dekat? Dengan pilihan kata yang lebih sederhana, pesan kamu akan terasa lebih jujur, lebih hangat, dan lebih mudah diterima.

4. Manfaatkan alat humanisasi

Kadang, meski sudah diedit, teks AI masih terasa kaku. Di sinilah alat humanisasi bisa sangat membantu. Alat ini dirancang untuk menulis ulang teks buatan AI agar terdengar lebih alami, seolah benar-benar ditulis oleh manusia.

Humanizer bekerja dengan memperhalus nada tulisan, merapikan susunan kalimat, dan membuat teks lebih mudah dibaca, tanpa mengubah pesan utamanya. Hasilnya, tulisan terasa lebih mengalir dan lebih nyaman dinikmati.

Salah satu contohnya adalah AI Humanizer dari QuillBot. Alat ini gratis, cepat, dan mudah digunakan. Anda cukup menempelkan teks yang ingin diperbaiki, lalu biarkan alat tersebut merapikan bagian-bagian yang terasa janggal. Dengan sedikit bantuan ini, tulisan Anda bisa terdengar lebih dekat, lebih personal, dan lebih “Anda”.

Dengan Humanizer dari QuillBot, kamu bisa menyempurnakan tulisan dengan lebih mudah. Alat ini membantu memilihkan kata-kata pengganti yang terasa pas dengan gayamu, sehingga teks tidak hanya terdengar lebih alami, tetapi juga benar-benar mencerminkan cara kamu berbicara dan menulis.

5. Ajari AI menulis seperti Anda

Jika Anda ingin hasil tulisan AI benar-benar terasa “punya Anda”, maka AI perlu mengenal cara Anda menulis. Mulailah dengan memberinya contoh tulisan yang pernah kamu buat, bisa berupa artikel blog, email, atau catatan pribadi. Semakin banyak contoh yang Anda berikan, semakin mudah AI meniru gaya Anda.

Jelaskan juga hal-hal kecil yang menjadi ciri khas tulisanmu. Apakah kamu sering memakai pertanyaan untuk mengajak pembaca berpikir? Suka menyelipkan referensi budaya pop? Atau lebih nyaman dengan kalimat pendek yang langsung ke inti? Ceritakan semua itu dengan jelas. Mungkin perlu beberapa kali percobaan, tetapi hasilnya sepadan terutama jika kamu sering mengandalkan AI untuk menulis.

6. Tambahkan contoh dan pengalaman nyata

Cerita singkat dari kehidupan sehari-hari bisa langsung membuat tulisan terasa lebih hidup. Tidak perlu kisah besar atau dramatis. Kalimat sederhana seperti, “Saat pertama kali mencoba cara ini tahun lalu, saya sempat bingung di tengah jalan,” sudah cukup untuk membuat pembaca merasa, “Oh, saya juga pernah.”

Contoh seperti ini membantu membangun rasa percaya dan memecah tulisan yang terasa terlalu umum. Yang penting, tetap relevan dan singkat. Pembaca datang untuk memahami isi, bukan membaca cerita panjang di tengah panduan.

7. Revisi agar punya sentuhan emosi

Tulisan dari AI sering terasa datar karena emosi yang digunakan hanya hasil meniru pola, bukan dari pengalaman nyata. Padahal, banyak topik justru membutuhkan sentuhan perasaan agar benar-benar sampai ke pembaca.

Cobalah pikirkan: apa yang dirasakan pembaca saat membaca topik ini? Apakah mereka sedang lelah dengan masalah yang tak kunjung selesai? Bersemangat mencoba peluang baru? Atau cemas mengambil keputusan penting? Sentuh perasaan itu secara langsung. Tunjukkan bahwa Anda memahami apa yang mereka rasakan.

Gunakan bahasa yang membantu pembaca “merasakan” isi tulisan, bukan sekadar memahaminya. Namun tetap jaga keseimbangan. Dalam panduan teknis atau laporan keuangan, emosi yang berlebihan justru bisa terasa janggal. Gunakan emosi secukupnya, sesuai konteks, agar tulisan tetap terasa jujur dan nyaman dibaca.

Artikel asli dari Quillbot: https://quillbot.com/blog/ai-writing-tools/how-to-humanize-ai-text/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top